Sabtu, 20 Agustus 2016

Cerbung Misteri

Rahasia Dalam Ruang Kelas
Genre : Teka-Teki, Ambisi, Emosi, Misteri, Fantasi

Chapter 1 : Sambutan Pertama

Samar-samar kau melihat seseorang menelusuri ruang kelas. Gaya pakaiannya rapi dan auranya gelap membuat siapa saja berfikir dia orang jahat. Ia berhenti tepat didepan ruang kelas 12 IPA 7. Senyum seringainya bak serigala membuat suasana tak nyaman bagi siapapun. Ia menelusuri tiap-tiap bangku dan berhenti tepat dibangku nomer dua dari belakang. Siapapun yang duduk dibangku ini pasti bermasalah,batinnya. Ia menatap kedepan, menatap papan tulis putih, mengucapkan sebuah puisi.
Saat angin berhembus kencang
Saat itu juga hatimu mengerang
Dia memakai pakaian hitam
Membawa masa kelam
Membunuh siapa saja
Sesuai takdir yang dijanjikan
Saat bayangannya ada
Mulutmu terus menyebut
Kata tolong tiada berarti
Sebab jantungmu berdebar sampai berhenti
Benar, saat dia datang kau akan mati!

Rooftop Mall disuatu tempat
Sosok itu tak begitu asing bagiku, tapi kau tak mengenalnya. Sosok itu menatap gedung-gedung didepannya. Ia mengadahkan kedua tangannya, berteriak didalam hati, akulah penguasa dunia ini! Ia mengeluarkan cermin dari saku bajunya, melihat bayangan dirinya. Ia tertawa bak orang tak waras. “Benar, benar, benar sekali! Aku memang juaranya! Dan aku, akan menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalanku untuk menjadi nomer satu, hahahaha!!” Ia tersentak, raut wajahnya yang sadis berubah, airmata menetes dari matanya. “Kenapa, kenapa kau tidak pernah melihatku, kenapa? Apa hanya karena ambisimu? Huh, suatu saat nanti kau akan hancur ditanganku!!”

Restaurant Bintang Tiga
Aku menunggu pesananku tiba, uh, benar-benar membuatku tidak sabar! Namun, senyum itu membuatku mengalah, senyum lembut gadis cerdas! Kau tidak akan bisa membayangkannya! Ia membawa pesananku membuatku makin  senang.
“Maaf menunggu lama, ini pesanan anda...” ucapnya sopan.
“Tidak apa-apa, tunggu, sepertinya kita seumuran, berapa umurmu?” tanyaku.
“17 tahun...” ucapnya lagi
“17 tahun? Benar juga kita seumuran!” ucapku sedikit terkejut
“Bukankah aku pernah melihatmu disuatu tempat? Ah, kau sekolah di SMA Doyle kan’?” tanyanya.
“Wah, darimana kau tahu? Jangan-jangan, kau, satu sekolah denganku?!” tanyaku menerka.
“Benar sekali! Aku tidak menyangka bertemu dengan teman satu sekolah disini!” ucapnya girang.
“Oh ya, kelas 12 ini kau masuk dikelas mana?” tanyaku.
“Kelas 12 IPA 7...”
Aku tersentak, “IPA 7?! Aku juga disana!”
“Wah, senang sekali! Kenalkan, namaku Lutfi Safira, kalau kau?”
“Salam kenal, namaku...”

Bimbel XX
Gadis berambut panjang itu tampak serius. Ia membolak-balik buku mencari sesuatu. Sesekali ia menghampiri gurunya menanyakan sesuatu. Malam semakin malam, ia tetap saja serius membaca buku dan menjawab soal-soal. Aku, aku harus mendapat nilai bagus dan meraih peringkat satu agar bisa ikut SNMPTN!, batinnya. Ia melihat teman satu bimbelnya makan di restaurant, sepertinya sedang bersenang-senang. “Bodoh! Sudah tahu tahun depan masuk Universitas, masih seneng-seneng mulu!” cibirnya. Ia melangkah dengan gemas dan tersentak, lalu melihat temannya lagi. “Sebenarnya, aku iri pada kalian. Kalian, masih bisa senang-senang, tapi aku harus berpusing-pusing ria. Kalau aku seperti kalian, ibuku pasti marah...”

Rumah Susun
Prang!! Ah, lagi-lagi keluarga itu bertengkar, apa tidak kasihan dengan anaknya? Huh, paling-paling, nanti, masuk berita gara-gara kekerasan anak atau kekerasan rumah tangga.
“Ayah, jangan!!” teriak seorang gadis dari dalam.
Dan, BRRAKK! Pintu terbuka, gadis itu mengenai tembok. Kepala gadis itu berdarah, ia menatapku. Aku ingin menolongnya, tapi ia berpaling masuk kembali. Aku merasa kasihan padanya dan hanya bisa mengasihani dari sini, uh, aku memang lemah dan payah! Namanya Anggita Devi ,dia teman satu sekolahku yang paling bermasalah. Bukan masalah yang ditimbulkan olehnya tapi ya, kau tahulah....


Hari ini, kau sudah mengikutiku kan’? Kau ingin tahu siapa aku? Sayangnya aku ini tidak tahu juga siapa diriku dengan jelas. Orangtuaku sangat kaya, namun, aku dididik hidup sendiri di rumah susun ini. Setiap bulan, orangtuaku mengirimiku uang, tapi itu hanya untuk uang sekolah, uang bimbel dan uang sewa. Untuk makan? Tenang saja, aku bekerja paruh waktu untuk itu kok. Alasan lain aku tinggal disini ya, rumah susun ini lumayan dekat dengan sekolahku. Tinggal jalan kaki tanpa menghadapi macet, mudah sekali kan’? Oh ya, segitu dulu, aku harus menyiapkan untuk sekolah besok, sampai jumpa, eh, tidak, oke, jika kau ingin tahu siapa diriku, ikuti aku!